Posted in AU, BTS, Ficlet, General, Romance

Permission

3-permission

Permissionㅡby GbubbleuMy

Genre  : Romance, AU

Rating : General

Length : Ficlet

Cast : Jeon Jungkook (BTS), Jun Jinhee (OC)

Before : He Has His Own Way ; You!

“Kenapa kau mau dengan Jinhee?”

“Jinhee orangnya bagaimana?”

“Bukankah dia itu cerewet”

“Bukan. Dia itu orangnya susah bergaul”

“Ternyata orang jenius bisa jatuh cinta pada orang ‘biasa’ ya?”

Kira-kira seperti itulah pertanyaan orang-orang di sekitarku dan Jungkook. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku dengar sendiri. Ada juga yang berkomentar langsung padaku.

“Kenapa Jungkook mau denganmu?”

“Kau tidak curiga dia mau denganmu? Apa dia taruhan?”

“Wanita secantik Yoora ditolak dan memilihmu. Dia sehat?”

Aku hanya bisa menanggapinya dengan elusan di dada.
Awalnya memang emosi.
Tapi karena sudah kebal dan Jungkook juga tidak menanggapinya, aku juga ikut-ikutan biasa saja.

Tapi tetap saja, sih, terdengar menyebalkan.
Disini seperti aku disalahkan karena tidak cocok dengan Jungkook.
Seperti aku begitu jelek dan tidak bisa bersanding dengannya.

Aku pernah bertanya, hanya sekali, pada Jungkook, “Apakah aku jelek?”.
Dia awalnya hanya diam, sambil melahap roti lapisnya tanpa ekspresi.
“Kau cantik”
Suaranya pelan, tapi masih bisa kudengar.
Walaupun begitu, mampu membuatku salah tingkah.

Mau kuceritakan mengapa Jungkook bisa memintaku untuk jadi kekasihnya?

Kira-kira bulan Desember tahun lalu, jika aku benar.
Awalnya kami tidak saling kenal. Mungkin hanya saling tahu sebatas nama saja, karena aku dan dia pernah berkerja sama di club fotografi sekolah.
Hanya sekali, dan kami tidak pernah berbicara lagi sejak itu.

Jungkook populer? Iya.
Sepertinya begitu. Kurasa karena kepintarannya itu yang sudah terdengar ke seluruh lapisan sekolah.
Ditambah dia tampan.
Menjadi nilai plus tersendiri yang berhasil membuatnya banyak digilai para siswi.

Tapi tidak denganku. Setidaknya pada saat itu.

Aku biasa-biasa saja, walaupun Jungkook memang tampan.
Tapi percuma saja tampan, jika tak pandai berbicara. Dia itu hanya berbicara ala kadarnya. Sudah singkat, dingin pula.

Aku masih ingat dengan toko buku di persimpangan jalan dekat sekolah.
Itu tempat pertama kali aku bertemu dan berbicara dengannya untuk kesekian kalinya. Selain di club fotografi.

Saat itu, aku masih memakai seragam karena langsung pergi kesana untuk mencari novel keluaran terbaru sepulang sekolah.
Sedangkan dia memakai pakaian santai, jeans dan sweater tebal.

Aku sempat bertanya pada diriku sendiri saat itu.
Dia itu rumahnya dekat sini ya? Cepat sekali, sudah berganti baju. Padahal bel pulang mungkin baru berbunyi sepuluh menit lalu, dan aku buru-buru datang ke toko buku ini karena tidak ingin kehabisan novel yang katanya best seller itu.

Aku sempat beberapa kali meliriknya. Tidak tahu kenapa. Padahal tidak ada yang menarik darinyaㅡmenurutkuㅡ.
Seperti menyadari, aku melihat Jungkook menghampiriku.
Tapi ternyata salah. Dia memang berjalan ke arahku, tapi untuk melihat ke rak buku yang berada di hadapanku, lalu mengambil sebuah novel, aku sudah lupa, tapi jika tidak salah itu novel romance.

Aku masih mengamatinya tanpa kusadari saat dia membolak-balikkan novel di tangannya. Sepertinya dia tahu sedang dipandangi, atau mungkin tidak juga.

“Aku tidak suka novel seperti ini”

Aku bingung. Bingung dia berbicara dengan siapa. Karena di kawasan rak ini hanya ada aku dengannya.

“Kau suka?”

Dia lalu menolehkan pandangannya ke arahku.

“Eh? I-iya…”

Aku kaget. Karena Jungkook berbicara padaku. Dan itu tidak biasa.

Kulihat dia tersenyum simpul sambil memandang novel itu kembali dan akhirnya ia letakkan ke tempat semula.
Tidak tahu dia tersenyum untuk apa.

“Rumahmu dimana?”

Duarr!

Bagai disambar petir di siang hari, aku jadi semakin kaget. Kalau kau heran, apalagi aku.

“K-kenapa..?”

“Aku tanya dimana”

“Lumayan jauh darisini”

“Oh..aku mau minta izin”

“I-izin..?”

“Iya. Ke orang tuamu”

“APA?!”

Aku meninggikan suara tanpa sadar. Ini sudah bukan kaget lagi. Tapi luar biasa kaget.

Tanpa mempedulikan ucapannya, aku pamit permisi darisana.
Aku keluar dari toko buku, dan baru bisa bernafas lega.

Mungkin yang tadi bukanlah Jungkook yang kukenal.
Ya, Jungkook yang kutahu tidak banyak bicara. Apalagi bicara melantur seperti itu.
Izin apa memang sampai harus ke orang tuaku.

“Hei”

Aku terlonjak ketika mendengar suara dari balik punggungku. Orang itu lagi.
Apa dia mengikuti sampai keluar?!

Otomatis aku membalikkan badan. Tidak sopan kan jika berbicara dengan orang dengan membelakanginya?

“K-kenapa..?”

Tadi saat dia berada di belakangku, aku bisa menyium wangi parfumnya sekilas.
Wanginya segar dan sedikit ada bau bayi disana. Tapi itu enak, aku suka baunya.

“Kau tahu kenapa aku harus mint izin ke orang tuamu?”

Aku ingin berteriak : ”IYAA. ITU YANG SEDANG AKU PIKIRKAN!”.
Tapi hanya bisa kukubur dalam benakku saja.

Aku menggeleng. Masih heran.

“Aku menyukaimu. Aku harus minta izin pada orang tuamu untuk menjadikanmu kekasihku”

Duarr!!

Bagai tersambar petir di siang hari untuk kedua kalinya, sebagai respon aku hanya diam mematung.
Dia mengucapkannya begitu santai, apa itu benar-benar nyata?

Apa Jeon Jungkook yang ‘itu’ benar-benar berbicara seperti ‘ini’ padaku?

“Ah..anu..apa ya…”

Aku menggaruk tengkuk. Gugup dan bingung menjadi satu. Aku tidak mengerti apa yang ia katakan!

“Kalau orang tuamu mengizinkan, berarti kau resmi jadi kekasihku”

“Eh?”

Dia tidak menanyakan pendapatku?
Seperti bertanya : Kau mau jadi kekasihku?

“Karena restu orang tua yang pertama, jadi aku akan tanya orang tuamu dulu. Baru aku akan tanya pendapatmu”

Dia ini seperti berbicara akan menikahiku saja. Sampai-sampai membawa tentang restu orang tua.

“Kalau orang tuaku mengizinkan tapi aku tidak mau?”

Aku berusaha berbicara se-normal mungkin.
Padahal jantungku sedang tidak karuan saat ini.

“Kalau begitu aku akan terus tanya pendapatmu. Sampai kau mau”

Apa ini lelucon? Dia hanya bercanda kan?

“E-eh…kau benar-benar akan melakukannya?”

“Iya?”

Apa-apaan ini? Membicarakan Jungkook dan berbicara langsung dengannya sungguh berbeda.
Aku bisa berbicara sebanyak yang aku mau tentangnya tanpa mempedulikan salah atau benar.
Tapi jika berhadapan langsung seperti ini, aku seperti tidak bisa berkutik.

Ada dalam diriku yang merasa heran, tidak tahu harus apa, gugup, dan senang? Sedikit.
Apa ini yang namanya cinta pandangan pertama?
Tapi aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu.

“Ayo”

“Kemana?”

“Pulang”

“Pulang?”

“Kerumahmu. Aku mau minta izin”

“Iya”

Kurasa itu memang cinta pandangan pertama. Iya.

kkeut

Advertisements

Author:

Post about BTS and EXO!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s