Posted in EXO, General, Oneshoot, Romance

Wimpy Boy

wimpy-boy

Wimpy Boy by GbubbleuMy

Genre : Romance

Rating : General

Lenght : Oneshoot

Main Cast : Park Chanyeol (EXO),  Yeon Jae Lim (OC)

Entah sudah keberapa kalinya ia tertawa mendengar ceritaku. Bahkan aku rasa ia lupa maksud dari kedatangannya kesini.

“Ah perutku sungguh sakit”

Ia meringis memegangi perutnya. Namun tak lama kembali tertawa.

Ah baguslah, aku bisa puas menatap wajah bodohnya kini. Sembari menunggu ia berhenti tertawa, kuseruput teh hijau yang ia buat beberapa menit yang lalu, terasa hampir dingin.

“Chanyeol aku butuh ke kamar mandi”

Ia mengisyaratkan dengan telunjuknya yang terangkat.

“Mmm-hmm” aku mengangguk, meletakkan cangkir teh. “Bawakan aku tisu juga setelahnya”

Entah ia mendengar atau tidak karena gadis itu telah pergi ke kamar mandi yang entah untuk apa.

~

Hanya menunggu beberapa menit ia kembali dengan sekotak tisu di tangannya. Ia melemparnya padaku lalu duduk di single-sofa lantas memainkan ponselku. Cih seenaknya..

“Aku tidak punya pacar, Sumpah!” Kuambil selembar tisu lalu memakainya untuk…ㅡya kau taulah, aku sedang flu.

“Ha?” Matanya menatapku bingung, seakan wajah itu tak bisa lebih bodoh lagi.

“Aku tak punya pacar. Jadi tak perlu memeriksa sebegitu detail-nya” Aku masih betah dengan tisu di hidungku. Menatapnya dengan tenang.

“Kau bicara apa sih?” Matanya menatapku tajam, namun masih terlihat bodoh.

“Itu. Kau bahkan memeriksa ponselku” Kutunjuk benda milikku yang dipengangnya.

“Hah? Aku hanya bermain game

Ia menunjukkan layar ponsel. Ya benar ia sedang bermain game yang entah apa namanya itu, terlalu rumit jika kusebutkan. Yang jelas itu permainan balap mobil yang baru ku download beberapa hari yang lalu.

Aku menatapnya dengan senyum jahilku, lalu tertawa tetahan.

Ish! Ya sudah tak jadi!” Ia melempar ponsel yang kini tepat mendarat di atas perutku. Membuatku kini benar-benar tertawa.

“Yaa!!” Tangannya bergerak dengan cepat menyingkirkan gumpalan putih yang aku lempar kepadanya, sekali lagi kejahilan untuknya.

“Park Chanyeol!” Ia melotot ke arahku, wajahnya benar-benar terlihat kesal.

Bagaimana tidak, yang kulempar adalah tisu bekasku untuk membersihkan hidung. Hoho…

“Chanyeol kau tau, itu terasa basah!”

Wajahnya memerah menahan amarahnya. Tentu saja basah, aku sudah memakainya untuk membersihkan ingus!.

Aku masih tetap tertawa, membersihkan sudut mataku yang tergenang air mata tanpa mempedulikannya.

Dengan tiba-tiba ia naik ke atas tubuhku yang memang sedari tadi selonjoran di sofa. Tangannya bahkan bergerak cepat memukulku, menampar-nampar pipiku lalu menjambak rambutku dengan brutal.

Aku bahkan tak lagi tertawa, malah meringis. “Ya! Lepas. AWWW!”

Ia bahkan menggigit tanganku yang berusaha menghentikannya.

“Lim hentikan! Aku sedang sakit”

Suara sexy ku akhirnya ikut bertindak, sedikit memekik.

“Baguslah. Dengan begitu kau lebih cepat mati!”

Gigi-giginya kini mengigit rambutku, sampai terasa ke kulit kepala.

AAAAAAAAAA!”

Tak peduli lagi! Aku bangkit dari posisiku. Kini seakan Lim sedang berada di pangkuanku. Aku mendorong tubuhnya namun masih memegang kedua bahunya agar ia tak jatuh.

“Sakit!” Aku memekik di depan wajahnya. Mungkin ludahku juga ikut menyemprot ke arahnya.

“Salah sendiri kau begitu menyebalkan!” Tangannya lagi-lagi memukul bagian tubuhku yang lain, yang bisa dijangkaunya.

“Ya! Ya! Hentikan atau kucium!”

Ia berhenti lalu menatapku dengan memicing.

“Berhenti atau kucium kau sekarang”

Kuulangi ucapanku barusan. Hah lihatlah! Sepertinya aku berhasil. Kuberikan senyum kemenangan milikku, dengan sedikit mengejeknya.

“Tidak akan!”

AWWWWW! HENTIKAN LIM”

¤¤¤

“Antarkan aku ke kedai kopi milik kakakmu ya?” Tangannya menarik-narik ujung kaos biru mudaku. Menatapku penuh harap.

“Untuk apa?”

Aku membuang muka. Demi apapun aku sedang malas kemana pun.

“Untuk menikah! Tentu saja untuk minum kopi!”

“Aku bisa membuatnya. Mau kubuatkan?”

Kuberikan senyum tengilku padanya.

“Nanti saja jika aku ingin mati aku akan menyuruhmu membuatnya. Sekarang ayo antarkan aku”

“Lim aku sedang flu. Aku tidak mau”

Aku berusaha memohon padanya yang sibuk menarik paksa tanganku.

“Kau sudah sembuh dua hari yang lalu. Ayo antarkan”

Tarikannya makin kuat hingga aku hampir saja terjungkal.

“Aku tidak mau. Naik bis saja sana”

Aku tetap bersikukuh, berusaha mempertahankan posisiku duduk diatas sofa.

“Dingin. Aku tidak mau. Ayolah”

“Baiklah baiklah. Tapi traktir aku makan di restoran sushi setelahnya”

“Tak masalah”

Ia melepaskan tanganku lalu tersenyum lebar. Melemparkan mantel cokelatku yang memang kusampirkan di sofa.

Cih dasar”

¤¤¤

Sedari tadi yang ia lakukan hanya duduk sembari memainkan kakinya. Menatap jalanan kota dengan sedikit bersenandung. Dia terlihat senang sekali di atas penderitaanku.

“Kau benar-benar akan mentraktirku kan?”

Aku meliriknya sekilas lalu memutar stir ke kiri di pertigaan.

Ia mengangguk-angguk kecil masih tetap menatap jalanan.

“Benarkah? Uang darimana?”

Mataku memicing, berusaha menggali kebenaran.

Ia menatapku dengan sebelah alisnya yang terangkat,

“Kenapa? Tidak mau yah? Ya sudah” Lim membuang mukanya lalu kembali bersenandung.
“Ya! Harus jadi!” Suara sexy-ku memenuhi seisi mobil dan Lim memukul bahuku cukup keras.

“Tak usah berteriak”

Dari ujung mataku bisa kulihat tatapannya padaku begitu tajam.

“Hehe maaf”
͠
Cha! Kita sampai” Kumatikan mesin mobil lalu melepas sabuk pengaman. Sedangkan Lim kini sibuk membuka pintu mobil dengan cepat lalu berlarian masuk ke dalam kedai kopi yang sudah tak asing lagi bagi kami.

Aku dengan cepat menyusulnya. Tak mau tertinggal.

Aroma kopi dan cake tercium menjadi satu saat aku masuk kedalam. Di pojok ruangan bisa kulihat seorang wanita sibuk dengan berbagai bunga lalu mengikatnya menjadi satu.

Noona

Ia menoleh lalu tersenyum padaku.

“Yeol!”

Ia meletakkan bunga yang telah ia ikat lalu menghampiriku. Memelukku hangat lalu mencium pipiku sekilas. Jujur aku masih malu jika noona melakukan itu, tentu saja karena aku sudah dewasa sekarang.

“Dengan siapa?”

Kutunjuk dengan daguku dimana Lim yang sedang memesan pesanannya. Lalu ia berbalik menatapku lalu berganti menatap Yoora noona.

Ia membawa nampan berisi pesanan miliknya yang diletakkan oleh waitress lalu berjalan menuju kami.

“Selamat pagi, Eonni” Ia menundukan kepala lalu tersenyum.

Wah. Sudah lama aku tak melihatmu Lim”

“Tentu saja. Saat aku kemari kau malah tak ada”

Yoora noona tertawa, begitu pula dengan Lim. Aku mengajak Lim duduk di bangku dekat jendela. Kedai kopi ini tak begitu ramai. Mungkin jika dihitung denganku dan Lim hanya ada sekitar tujuh orang saja. Mungkin karena masih pagi.

“Sehabis ini ikut aku ke toko buku”

Kubenarkan posisiku duduk. Meletakkan tanganku diatas meja lalu menatapnya yang sibuk memotong kecil chessecake pesananya.

Ia mengangguk-angguk setuju, “Eh tapi untuk apa?” Sudah kuduga ia akan bertanya.

“Beli buku tentu saja”

Aku menatapnya malas, sedangkan ia menyengir seperti orang bodoh.

“Wah, vanilla latte disini sungguh enak. Aku baru pertama kali mencobanya. Kau mau?”

Ia menyodorkan gelas yang dipeganggnya. Kutatap bingung gelas itu lalu berganti menatap Lim yang kini menggoyang-goyangkan gelas itu. Menungguku.

Daripada penasaran kuseruput juga vanilla latte yang berada pada gelas yang dipegangnya.

“Bagaimana?”

Aku mengangguk-angguk kecil, “Lumayan”

Aku memang jarang pesan makanan ataupun minuman disini. Paling-paling jika berkunjung aku hanya membantu noona atau belajar membuat kopi dari salah satu pegawai. Tapi yang paling sering, aku kesini karena mengantarkan Lim.

“Oh iya, ngomong-ngomong teman mu itu bagaimana?”

Lim menatapku dengan masih mengunyah cheesecake, seakan matanya itu bertanya Siapa?

“Itu yang menyatakan perasaannya padamu. Siapa namanya? Byun—….Baekhyun?”

Kujentikkan jari setelah berhasil mengingat-ingat nama temannya itu.

“Oh..dia. Setelah kutolak ia jarang menyapaku sekarang. Bahkan wajahnya terlihat kesal dan memerah saat tak sengaja bertemu denganku”

Lim menanggapinya enteng dan memasukan sepotong kecil lagi cheesecake ke mulutnya.

“Lalu?” Aku masih penasaran.

“Kemarin kudengar dari Jae-Seon ia pindah ke universitas lain karena trauma kepadaku”

Sontak aku tertawa mendengarnya. Tertawa begitu lepasnya dan cukup keras.

“Ya! Kenapa kau tertawa!” Ia memekik dengan matanya yang melotot. Sesekali ia melirik sekitar memastikan tak ada yang melihat. Tenang saja, kami berada di bangku yang cukup jauh dari orang-orang.

“Kau memang mengerikan” Aku masih tetap tertawa, memukul-mukul meja beberapa kali dan sesekali memegangi perutku.

“Ya! Apa maksudmu?!”

“Kau seharusnya beruntung masih ada yang menyatakan cinta padamu ditengah sifatmu yang seperti singa betina. Tapi kau malah menolaknya bahkan membuatnya trauma.”

Sungguh aku tak bisa berhenti tertawa!. Aku bahkan tak peduli Lim akan memukulku secara brutal lagi.

“Park Chanyeol diamlah!”

Ia memukul kepalaku dengan garpu kecil yang dipegangnya. Aku benar, ia tak akan berani menyerangku saat ada noona, hanya sebatas pukulan dengan garpu itu sungguh tidak ada apa-apanya.

“Aku hanya…” Tangannya sibuk memainkan cheesecake di depannya. Membolak-balik makanan itu terkadang menusuk-nusuknya dengan garpu.

Tawaku perlahan berhenti, menatapnya agar melanjutkan perkataannya. Namun Lim hanya diam, seperti tak ada maksud untuk melanjutkannya.

“Hanya?”

“Hanya tak ingin pacaran”

Ia menatapku seakan memastikan aku tak akan tertawa lagi. Baiklah aku mengerti, untuk kali ini aku tak akan tertawa.

“Kenapa?”

Kuambil vanilla latte-nya lalu menyeruputnya perlahan.

“Ibu bilang, masa pacaran itu hanya menghambat saja. Ibu juga bilang, lebih baik memastikan pria itu benar-benar baik hatinya lalu segera menikah”

Sontak aku melepaskan bibirku dari gelas yang kupegang. Menelan paksa cairan kental di mulutku lalu setelahnya tertawa. Lim mengatakannya dengan begitu jujur, kau tau!.

“Sudah kuduga bercerita padamu tak ada gunanya”

Ia mengerucutkan bibirnya, lalu menusuk potongan cheesecake dengan kasar dan memasukan ke dalam mulutnya.

Aku mengelap-ngelap mataku yang cukup basah karena air mata, cukup puas aku tertawa.

“Kalau begitu ayo menikah denganku”

Aku tertawa kecil, menatapnya dengan cukup serius.

Lim menatapku dengan raut wajah terkejut, meletakkan garpu itu perlahan.

“A—apa?” Dahinya mengkerut.

“Tidak tidak, lupakan”

Aku membuang muka darinya, menatap trotoar dari balik kaca lalu tersenyum kecut.

Entah kenapa atsmosfer diantara kami menjadi canggung setelahnya. Kami jadi diam satu sama lain.

“Sudahlah. Ayo ke toko buku”

Tak ingin berlama-lama dalam kecanggungan, kutarik tangannya untuk meninggalkan tempat itu.

“Yeol, mau kemana?” Suara noona menghentikanku sejenak.

“Toko buku. Aku akan segera kembali”

Aku kembali menarik tangan Lim hingga kami benar-benar keluar, aku melepasnya. Memindahkan tanganku kedalam saku jeans yang kupakai lalu berjalan disampingnya. Letak toko buku tak jauh, hanya berjarak 2 blok. Jadi cukup dengan berjalan kaki.

Kepala Lim menunduk, cahaya matahari yang menerpa tubuh kami membuat wajahnya yang memerah terlihat jelas. Hei, dia kenapa?

Aku kembali memusatkan pandanganku pada jalan, bersenandung kecil agar tak merasa canggung.

Dengan tiba-tiba Lim mengaitkan tangannya padaku. Tapi tak berani menatapku.

“Lim?”

“Inikan yang dilakukan dua orang yang saling menyukai?”

Aku terperanjat. Jangan bilang kalauㅡ

Dengan tiba-tiba Lim mencium pipi kiriku. Membuatku benar-benar seperti patung sekarang, berdiri di tengah kerumunan orang banyak.

“Ayo kita menikah”

kkeut

 

nb : pernah di posting di blog sebelah dengan nama asli Author

Advertisements

Author:

Post about BTS and EXO!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s